Arti Penting Kunjungan Raja Salman

KUNJUNGAN kenegaraan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke Indonesia 1-9 Maret 2017 bisa dibaca sebagai kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Saudi September 2015. Sewaktu berkunjung Jokowi dianugerahi penghargaan tertinggi King Abdul Aziz Medal di Istana Al-Salam Diwam Maliki. Tidak setiap tamu kerajaan dianugerahi medali tertinggi. Hanya tamu yang diangggap istimewa yang mendapat penghargaan order of merit tertinggi Kerajaan Saudi. Dengan demikian kunjungan Jokowi ke Saudi sungguh luar biasa penting artinya.

Kini, saat Raja Salman berkunjung ke Indonesia, kunjungannya itu juga mempunyai arti penting terutama dalam konteks upaya mempererat hubungan Indonesia-Saudi. Terlebih kunjungan ini merupakan pertama kali Raja Saudi dalam rentang waktu hampir 47 tahun terakhir. Terakhir Raja Saudi mengunjungi Indonesia terjadi 10-13 Juni 1970 oleh Raja Faisal. Tiga raja berikutnya: Khalid (1975- 1982), Fahd (1982-2005), dan Abdullah (2005- 2015) tak sekali pun mengunjungi Indonesia.

‘Air Segar’

Karenanya, kunjungan balasan Raja Salman bagai ëair segarí yang sanggup menghilangkan dahaga (sebagian) masyarakat Indonesia. Terutama mereka yang merindukan kunjungan orang nomor satu Kerajaan Saudi. Setelah hampir setengah abad tak sekali pun Raja Saudi menyambangi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Lantas, dalam rangka mempererat hubungan Indonesia-Saudi, langkah apa yang siap ditempuh? Melihat banyaknya businessman dan investor yang ikut-serta dalam kunjungan Raja Salman serta besarnya dolar yang siap diinvestasikan di Indonesia (25 miliar dolar AS), diyakini Presiden Jokowi maupun Raja Salman bakal segera menempuh langkah peningkatan kerja sama bidang perdagangan investasi. Langkah ini logis. Kamar Dagang (Kadin) Komite Timur Tengah dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyebutkan Arab Saudi merupakan salah satu mitra dagang terpenting Indonesia di kawasan Teluk. Nilai perdagangan bilateral tahun 2014 mencapai 8,67 miliar dolar AS meski Indonesia mengalami defisit 4,36 miliar dolar. Defisit sebanyak itu tentu menjadi masalah yang mesti secepatnya diatasi. Sejauh ini Indonesia menjadi pengimpor minyak terbesar Saudi.

Untuk mengatasi defisit besar tersebut Indonesia perlu memanfaatkan (salah satunya) akses lebih besar untuk memasuki pasar produk halal Saudi. Potensi ekspor produk halal Indonesia ke Saudi dan Timur Tengah umumnya memiliki prospek bagus. Menurut laporan Global State of Islamic Economic 2013, permintaan produk halal dunia diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 9,5% dalam rentang waktu 2013-2019, yaitu dari 2,0 triliun dolar AS menjadi 3,7 triliun dolar. Angka ini menunjukkan potensi pasar produk halal yang besar yang mesti bisa dimanfaatkan seefektif mungkin oleh kalangan pelaku ekonomi Indonesia.

Masih Rendah

Terkait investasi, nilai investasi Saudi di Indonesia masih rendah. Indikasinya, semester pertama 2015 misalnya, nilai investasi Saudi hanya 29,3 juta dolar AS. Karenanya, ketika dinyatakan Raja Salman dalam kunjungannya menyiapkan 25 miliar dolar AS untuk diinvestasikan di Indonesia, sungguh itu sebuah progres penting dalam kerja sama investasi IndonesiaSaudi.

Kemajuan nilai investasi sebesar itu akan digerakkan untuk pembangunan infrastruktur kilang minyak Cilacap, Dumai, dan Balongan, serta pembangunan perumahan murah, dan pariwisata. Langkah (meningkatkan) kerja sama pariwisata pun logis. Pasalnya kerja sama pariwisata Indonesia-Saudi juga belum memuaskan. Wisatawan Saudi yang berkunjung ke Indonesia pada 2014 sebanyak 131.000 orang. Angka ini di bawah angka wisatawan Saudi ke Malaysia maupun Thailand yang mencapai kisaran 200.000-300.000 orang tahun yang sama.

Di luar langkah tersebut, upaya memperkuat hubungan Indonesia-Saudi ke depan perlu dilakukan. Terutama dengan membangun komitmen kuat bersama untuk mengurusi semanusiawi mungkin khususnya WNI yang bekerja di Saudi yang tersandung masalah hukum. Ini penting (tak kalah penting dari soal upaya penambahan kuota haji bagi Indonesia) dan perlu dilakukan sekarang. Pasalnya, dari sekitar 1,2 pekerja migran WNI di Saudi sekitar 6.000 di antaranya kini tersangkut masalah hukum di negeri tersebut. Pemerintah Indonesia mesti konsisten melindungi mereka yang tengah terancam hukuman (mati) di Saudi.

Oleh : Chusnan Maghribi. Alumnus Hubungan Internasional FISIP UMY.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *