Kiai Hasyim, Humor dan Keindahan Islam


SIAPAKAH tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menyegarkan bahasa dakwahnya? Tentu warga nahdliyyin akan sepakat dengan sosok KH Dr Hasyim Muzadi. Lelaki kelahiran Tuban 4 Agustus 1944 tersebut, Kamis (16/03/2017) lalu telah menghadap Allah Swt. Tokoh dan guru bangsa yang dikenang masyarakat Indonesia sebagai sosok ulama yang tawadhu yang sangat jarang membuat kontroversi dalam berkiprah. Beliau lebih sering merawat dan menentramkan semua komponen bangsa.

Rasanya setiap orang selalu teringat dakwah dengan humor yang disampaikan Kiai Hasyim. Humor yang mengalir, hingga suasana menjadi cair. ”Saya kadang-kadang berpikir, di negara non muslim, barang yang hilang kok ketemu semua. Sementara di negara yang mayoritas Islam, barang yang ada hilang semua”. Demikian gaya bahasa Kiai Hasyim di depan Presiden, Menteri dan Duta Besar. Dengan logika yang matang dan intonasi yang pas, ceramah yang disampaikan Kiai Hasyim sungguh sangat menyenangkan pendengarnya. Bahkan yang disindir pun bisa ikut tertawa, tidak terasa dan tidak sakit hati.

Di istana pula Kiai Hasyim menyindir umat Islam yang bernama Muhammad, tetapi perilakunya tidak seperti Nabi Muhammad Saw. Kalau Nabi Muhammad Saw, ungkap Kiai Hasyim, membuat konsensus bernama ‘Piagam Madinah’, bukan Negara Islam. Di dalamnya, tertuang kesepakatan-kesepakatan hidup bersama dengan damai. Semua orang diberi ruang untuk mengembangkan kehidupannya, tanpa membedakan latar belakang agama, suku, ras yang berbeda. ”Ini contoh oleh baginda Nabi Muhammad Saw, sendiri, bukan orang lain. Di sinilah bedanya, Nabi Muhammad Saw, dengan Muhammad yang belakangan ini,” kata Kiai Hasyim. Kalimat yang membuat tawa Presiden Jokowi. (Hamzah Sahal: 2017).

Kiai Hasyim termasuk tokoh NU yang langka yang melangkah di dua lini sekaligus yaitu politik dan keagamaan dengan sangat aman, tanpa konflik. Yaitu sebagai ulama NU yang tetap berkharisma dan senantiasa ditunggu nasihatnasihatnya untuk bangsa ini, terutama warga nahdliyyin. Biasanya ulama kalau sudah terjun di politik, umat akan menjauh. Tapi berbeda dengan Kiai Hasyim, umat tetap banyak yang mengagumi dan mencintainya sampai akhir hayatnya.

Mencegah Terorisme

Kegelisahan Kiai Hasyim adalah kegelisahan melihat kecenderungan iklim keberagamaan yang menjadi radikal. Tak henti, Kiai mengampanyekan Islam penuh rahmat untuk semesta alam (rahmatan lil’alamin). Membentuk Forum ICIS (International Conference of Islamic Scholars), yang setiap tahun menggelar konferensi tahunan, guna memfasilitasi ulama-ulama Indonesia ke forum-forum internasional.

Menurut Kiai Hasyim Muzadi (2003), paham radikal yang masuk ke Indonesia dalam bentuk terorisme, bukan semata-mata gerakan terorisme domestic. Tapi merupakan bagian dari terorisme internasional yang dipicu oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah. Karenanya kita harus bersatu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pertama, mengampanyekan pemahaman agama secara benar kepada umatnya masing-masing.

Kedua, melakukan penguatan terhadap gerakan-gerakan moderasi, termasuk di Indonesia. Dengan cara bekerja sama dengan intens di antara umat-umat beragama di seluruh dunia. Gerakan penguatan terhadap gerakan agama yang moderat juga bisa dilakukan melalui minimalisasi konflik global yang menjadi ‘pintu masuk’ lahirnya gerakan-gerakan radikal serta terorisme. Ketiga, dikembangkan, gerakan pengamanan yang menjadi wewenang Negara kepada warganya baik yang bersifat keamanan fisik maupun non fisik. Seperti infrastruktur bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya demokrasi, pluralisme dalam suasana damai.

Keempat, mengembangkan tata hubungan agama dan Negara yang bisa menjamin stabilitas, kemajemukan, serta pengembangan agama. NU mempunyai konsep dari agama ke dalam Negara seharusnya adalah nilai-nilai agama yang menyatukan dimensi sosial serta humanitas yang dikemas dalam idiom-idiom nasional. Yang diserap dari agama bukanlah formalitas rincian-rincian hukum positif yang kemudian dipaksakan ke dalam negara. Mengapa? Karena, hal itu hanya akan menimbulkan benturan antarumat beragama. Saatnya keteladanan Kiai Hasyim kita ikuti dalam hal kecintaannya menyebarkan Islam yang penuh rahmat di dunia ini, khususnya di bumi pertiwi ini.

Oleh : Arief Fauzi Marzuki. Ketua LPBH NU Piyungan, Bantul Yogyakarta.


0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *