Mewujudkan Pesan Israk Mikraj

PERINGATAN hari besar ini jatuh sebelum bulan puasa tiba. Ia seakan petunjuk simbolik agar umat memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Betapa ia dirayakan di banyak tempat dan meriah, pesan apakah yang perlu ditekankan agar perayaan ini bukan sekadar pemenuhan hari penting kalender Islam. Dengan demikian, pesan perjalanan Nabi pada malam hari ini memberikan kesan yang mendalam dalam praktik keagamaan umat secara keseluruhan.

Dengan Israk, Nabi melakukan perjalanan bumi dan dengan Mikraj, Muhammad naik ke langit bertemu Tuhan. Ketika keduanya digabung menjadi satu, sebuah pertanda bahwa bumi dan langit itu tidak bisa dipisahkan. Sebelum melakukan perjalanan vertikal, manusia mesti melalui garis horizontal agar ia mempunyai pijakan. Mengabaikan bumi untuk merawat kesalehan adalah bukti kegagalan memahami pesan.

Kesempurnaan

Seperti diungkap dalam The Vision of Islam (2000), Sachiko Murata memandang mikraj ini penting. Sebagai tangga, adalah simbol kenaikan Nabi ke langit yang membayangkan konseptualisasi tentang kosmos dan kesempurnaan manusia. Namun, dengan tangga itu pula Nabi turun ke bumi untuk melanjutkan risalah kenabian. Alih-alih berdiam diri di langit, ayah Fatimah turun ke bumi yang penuh dengan penderitaan dan tantangan. Dengan demikian asyik-masyuk dengan Tuhan tidak melenakan manusia untuk memenuhi tugasnya sebagai khalifah bumi, mengajak manusia untuk berbaik pada sesama dan menjaga bumi, sebagai tempat mereka beribadah. Tentu saja, peringatan Tuhan tentang betapa kerusakan di muka bumi dan laut akibat tangantangan manusia perlu diperhatikan. Agar kesalehan tidak dipahami semata-mata ibadah, tetapi juga kepedulian pada kelestarian alam sekitar.

Perayaan hari besar ini dengan ceramah diiringi dengan kegiatan-kegiatan praktis terkait kepedulian sesama dan lingkungan. Orasi di atas panggung harus disertai dengan mengajak jemaah untuk berbuat nyata mengatasi masalah kemiskinan, kemerosotan moral, dan kerusakan alam. Jika sekolah menyelenggarakan peringatan ini, sesudahnya mengajak murid untuk membersihkan lingkungan sekolah, mengajak mereka mengenali masalah lingkungannya dan mengatasinya.

Perayaan adalah momen di mana orang ramai berkumpul. Di sini, mereka dipaparkan pada ide bahwa kebersihan itu sebagian dari iman, tetapi mereka harus menjaga tempat peringatan senantiasa bersih. Jika peristiwa langit dikaitkan dengan iman, maka yang terakhir diwujudkan dengan perbuatan yang terpuji, seperti hormat pada tetangga. Jadi sedalam apapun keimanan seseorang, ia bisa dilihat sejauh mana ia mengamalkan akhlak dalam sehari-hari, baik pada diri sendiri dan orang lain.

Berolahraga

Akhlak pada diri sendiri adalah menjaga kesehatan tubuh. Nabi tidak ingin umatnya lemah. Tak pelak, Rasulullah menyarankan orang Islam untuk berkuda, berenang dan memanah. Dengan berolahraga, Muslim mempunyai tubuh yang prima, yang tak mudah diserang penyakit. Sementara etika pada liyan adalah wujud dari keimanan, sehingga iman tak lagi dipahami secara sempit dan abstrak, percaya pada Tuhan semata-mata.

Oleh karena itu, Hadits yang menyatakan bahwa salat sendirian memperoleh 1 darajat dan berjemaah mendapatkan 27 derajat menunjukkan bahwa kepercayaan pada Tuhan diwujudkan dengan kebersamaan. Kepedulian sosial adalah puncak dari iman sejati sehingga diganjar lebih banyak dibandingkan dengan ibadah yang semata-mata dilakukan sebagai pemenuhan kewajiban pada Sang Khalik. Jalan menuju surga ditempuh dengan berbagi dengan sesama.

Jika manusia melakukan amal baik atas dasar iman, Tuhan akan menganugerahkan kehidupan yang bahagia (hayatan tayyibatan). Konsep ini sejalan dengan ide Aristoteles tentang eudaimonia bahwa kebajikan (virtue) itu adalah tujuan bukan alat untuk mendapatkan kebahagiaan. Jadi, kesempurnaan manusia itu bukan terletak pada dirinya semata-mata tetapi kehadirannya bermanfaat bagi orang lain.

Andaikata kebahagiaan itu bersifat individual, tentu Nabi Muhammad akan tetap tinggal di langit dan tidak turun ke bumi dalam peristiwa Israk Mikraj. Peristiwa ini semacam pengalaman Zarathustra yang digambarkan Nietzsche bahwa ia mengorbankan kesenangan dirinya dan kembali pada warganya untuk bersama-sama menjalani kehidupan yang baik dan bermakna. Dengan peringatan ini, tangga ke langit itu kunci.

Oleh : Ahmad Sahidah PhD. Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *