Posts

Memaknai Tri Suci Waisak Dalam Semangat Kebhinnekaan

Tanggal 11 Mei 2017 tepatnya pada pukul 04.42.09 umat Buddha akan melakukan meditasi detik-detik Tri Suci Waisak 2561 tahun 2017 di berbagai tempat di Indonesia. Tri Suci Waisak adalah momentum mengenang tiga peristiwa suci yang dialami Guru Agung Buddha Gautama yaitu: kelahiran, pencapaian pencerahan dan saat meninggal (parinirvana) Buddha Gautama pada bulan Vesakkha di India Kuno. Dengan hening meditatif umat Buddha merenungkan nilai-nilai kebenaran universal (dharma) ajaran Buddha Gautama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dharma yang diajarkan Buddha Gautama telah berusia 26 abad. Bagi sebagian orang mungkin ajarannya dianggap kuno dan diragukan kemampuannya dalam menjawab persoalan kekinian yang semakin kompleks. Konteks zaman pasti berbeda pada masa Buddha Gautama dan di masa sekarang. Namun, akar permasalahan sejak dulu hingga sekarang bahkan nanti masih akan sama yaitu: hawa nafsu yang tak terkendali dan bersemayam dalam diri setiap manusia baik dalam bentuk kasar maupun halus. Hawa nafsu inilah yang perlu direduksi terus menerus.

Cinta Kasih

Perjuangan Sidharta Gautama sebelum mencapai kesempurnaan (menjadi Buddha) di bawah pohon Bodhi adalah perjuangan hebat dalam pencapaian tingkat spiritual. Bertarung dengan hawa nafsunya sendiri. Menaklukkan mara (bahasa Pali, artinya hawa nafsu) yang berwujud kebencian, keserakahan, kegelapan batin, kesombongan, pandangan keliru, keragu-raguan, kemalasan, kegelisahan, ketidakmaluan moral dan rasa tidak takut berbuat jahat. Dengan sepuluh kualitas (dasa paramita) yaitu kemurahan hati, kemoralan, pelepasan, kebijaksanaan, semangat, kesabaran, keteguhan tekad, kejujuran, cinta kasih dan keseimbangan mental Sidharta Gautama memenangkan pertarungan dan mencapai tingkat spiritual tertinggi Samma Sambuddha.

Dalam ajaran Buddha Gautama, landasan awal untuk mencapai tataran spiritual yang lebih tinggi adalah cinta kasih (metta) dan kebijaksanaan (pannya). Keduanya menjadi landasan penting dalam setiap pikiran, ucapan dan perbuatan. Cinta kasih adalah perasaan tiada membenci, memandang setiap makhluk sebagai saudara dan usaha aktif memberikan kebahagiaan bagi semua makhluk. Kebijaksanaan adalah pengetahuan dan pemahaman, mengetahui mana yang baik mana dan buruk, mana yang bermanfaat dan tidak, mana yang perlu dan tidak perlu. Dari cinta kasih dan kebijaksanaan inilah hawa nafsu akan terkikis.

Menjaga Kebhinnekaan

Seperti perjuangan Sidharta dalam mencapai kesempurnaan itulah kiranya Bangsa Indonesia saat ini sedang berjuang menaklukkan rintangan demi mencapai tataran kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih tinggi. Begitu banyak rintangan, hambatan dan tantangan yang harus dihadapi Bangsa Indonesia. Kebencian, keserakahan dan ego pribadi maupun kelompok telah berkelindan menjangkiti berbagai aspek penyelenggaraan berbangsa dan bernegara kita. Praktik intoleransi, ujaran kebencian dan hoax, mega skandal korupsi, suap, teror, ancaman disintegrasi dan konflik horisontal tidak lain adalah manifestasi hawa nafsu. Menghadapi persoalan bangsa yang kian rumit memerlukan komitmen teguh seluruh elemen bangsa. Komitmen teguh mewujudkan cita-cita bangsa berlandaskan nilai-nilai moral Pancasila, semangat mempertahankan NKRI, menerima kebhinnekaan, dan berpegang teguh pada UUD. Sangha (Organisasi-organisasi bhikkhu di Indonesia) pada Waisak 2561 tahun 2017 ini mengambil tema yang relevan dalam menyoroti persoalan bangsa. Sangha Theravada Indonesia (STI) mengambil tema ‘Cinta kasih penjaga kebhinnekaan’. Sangha Mahayana Indonesia (SMI) mengambil tema ‘Dengan semangat Waisak kita tingkatkan toleransi dan kerukunan demi tercapai kedamaian’.

Sangha Agung Indonesia (Sagin) ‘Memahami kebhinnekaan dalam kebersamaan’ sedangkan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) mengambil tema sentral ‘Tingkatkan kesadaran menjadi kebijaksanaan’. Semuanya menekankan pentingnya kembali kepada semangat kebhinnekaan. Seperti wasiat Mpu Tantular yang telah ditulisnya dalam kakawin kuna Sutasoma ”… Mangka ng Jinatwa kalawan iwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa artinya … sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda namun satu, tiada kebenaran yang mendua.

Demikianlah dalam realitas kehidupan berbangsa ini kita boleh berbeda soal pilihan, agama, ras, suku dan budaya. Namun nilai-nilai cinta kasih, perdamaian serta kebijaksanaan sebagai esensi dari ajaran kebenaran haruslah terus membingkai perbedaan itu.

Oleh : Totok Tejamano. Ketua Vihara Buddha Karangdjati, Penyuluh Agama Buddha Yogyakarta, anggota IKAL DIY