Teror Belum Berlalu

KEHENINGAN bangsa ini tersentak dengan peristiwa terorisme yang kembali hadir. Ledakan bom panci terjadi lapangan dekat kantor Kelurahan Arjuna, Kota Bandung, Jawa Barat di awal pekan ini. Pelaku kemudian masuk ke dalam kantor kelurahan dan bersembunyi di dalamnya. Negosiasi yang dilakukan polisi ternyata tidak direspons pelaku. Hingga terduga teroris ini akhirnya harus dilumpuhkan hingga meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Peristiwa ini menggambarkan bahwa gerakan-gerakan terorisme masih bersemayam di Indonesia. Sel-sel teroris terus membelah diri hingga menghasilkan kombatankombatan baru yang siap untuk menjadi ‘pengantin’.

Kejadian ini seolah menjadi ‘salam perjumpaan kembali’ yang dilakukan kelompok teroris. Sebab selama ini kita menduga ruang gerak teroris sudah semakin menyempit. Apalagi pada tahun 2016, khususnya akhir tahun, polisi banyak menyisir kelompok-kelompok teroris di berbagai tempat. Polisi juga berhasil menggagalkan rencana aksi teror di beberapa objek vital yang diincar oleh teroris.

Masih Eksis

Penangkapan besar-besaran dan tanpa henti ini memang merupakan upaya untuk menekan geliat para teroris. Harapan bahwa tahun 2017 sudah tidak ada lagi teroris pun membuncah. Ada optimisme bahwa tidak akan ada lagi aksiaksi kekerasan di Indonesia. Bulan Januari 2017 kita lewati dengan mulus. Bandingkan dengan tahun 2016, bangsa ini langsung tersengat dengan peristiwa Bom Thamrin pada 14 Januari. Kejadian teror pun susul-menyusul tanpa henti. Baik yang dilakukan oleh kelompok maupun individu. Seperti bom Mapolresta Surakarta (5 Juli), teror bom Medan (28 Agustus), dan teror bom Samarinda (13 November).

Teror di akhir Februari 2017 ini menjadi sinyal kuat bahwa kelompok teror masih terus bergentayangan. Beberapa penangkapan yang dilakukan terhadap rekan-rekan mereka tidak menciutkan nyali mereka. Pesan yang ingin disampaikan adalah kami masih eksis. Kelompok teroris redup sejenak sekaligus mempersiapkan aksi-aksi kejutan lainnya. Jadi kelengahan sedikit saja akan dimanfaatkan teroris untuk menghantui kita. Terlebih jaringan teroris di Indonesia sudah terhubung dengan kelompok teror lingkup Internasional. Sehingga kekuatan mereka terus didukung. Termasuk bantuan dana dan ilmu teror. Tersedianya teknologi informasi yang cepat dan murah, membuat mereka memiliki banyak modal untuk tetap menjalankan terornya.

Untuk mengatasinya, perlu dilakukan penanganan yang menyeluruh. Tidak hanya dalam aspek penegakan hukum, tetapi juga aspek lainnya. Selama ini kita lebih banyak disuguhkan informasi pemberantasan terorisme yang bersifat ‘keras’ dan mengandalkan senjata. Seperti baku tembak polisi dengan teroris, penjinakan bom, operasi penangkapan, dan sebagainya. Padahal penting juga membicarakan penanganan terorisme terkait hal-hal yang ‘lembut’dan tanpa senjata.

Misalnya, bagaimana aparat dan pemerintah melakukan pendekatan terhadap terduga dan mantan teroris agar mereka insaf. Kemudian setelah ke luar dari penjara, bagaimana pemantauan pihak-pihak terkait terhadap aktivitas mereka. Terhadap keluarga tersangka/terduga teroris, apa upaya yang ditempuh agar bisa membantu kondisi perekonomian mereka, dan sebagainya. Sebab ada beragam motif yang bisa menggerakkan seseorang untuk melakukan kekerasan. Mulai dari ideologi yang dipahami, kondisi mental, aspek ekonomi, dan sebagainya.

Proses Penanganan

Hal ini penting dilakukan agar para teroris yang pernah ditangkap tidak mengulangi perbuatannya lagi. Jika diingat, pelaku Bom Thamrin adalah residivis. Begitu juga pelaku teror di kantor kelurahan kemarin. Artinya proses penanganan teroris harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Kita berharap, teror yang terjadi kemarin mampu disikapi dengan baik. Baik oleh pemerintah, aparat keamanan, dan juga masyarakat. Tidak perlu menunjukkan sikap ketakutan yang berlebihan, sebab hanya akan membuat kelompok teroris tersenyum lebar. Jangan juga terlalu jumawa dengan menantang kelompok teror untuk keluar dari sarangnya. Sikapi saja dengan proporsional. Meskipun begitu, kita perlu waspada. Sebab kelompok teror bisa mengancam siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Oleh : Rachmanto. Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *