Rakyat Banten, Diantara WH dan Si Doel

Tak bisa di pungkiri nama besar Wahidin Halim (WH) masih menggurita dikalangan grassroot dan masyarakat Tangerang Raya. Segudang karya yang ditinta emaskan oleh WH sejak menjabat birokrat hingga menjadi tokoh politik berhasil menempatkannya sebagai politisi yang patut diperhitungkan selama dekade pemerintahan pasca lensernya gubernur Atut Chosiyah.

Menjelang pilgub Propinsi Banten 2017 mendatang berbagai persepsi dan pandangan tentang sosok calon gubernur masih hangat menjadi topik perbincangan bukan hanya dari kalangan elite politik, pegawai pemerintahan, karyawan swasta hingga sekedar obrolan warung kopi orang ramai membicarakan potensi dan intelektualitas sosok calon gubernur.

WH adalah seorang politisi yang sudah membuktikan diri kepada masyarakat Banten sebagai salah satu calon pemimpin yang memiliki integritas dan amanah. Selain figure yang sangat kental dengan budaya orang Tangerang pemikirannya juga sangat matang, uniknya citra religiusnya tak lepas dari kebanyakan orang-orang Banten.

Kiprah WH saat menjadi birokrat berbagai penghargaan berhasil di capai baik dari tingkat daerah hingga nasional,  Sepak terjang WH dianggap sebuah prestasi yang luar biasa dan berdasarkan informasi yang berkembang saat ini, Berbagai elemen masyarakat sangat berharap Wahidin Halim dapat menjadi Banten I pasca periode Atut-Rano Karno.

Patut diakui jika peranan, prioritas dan etos kerja Wahidin Halim sejak terpilih sebagai Anggota DPR RI dari Partai Demokrat semakin tinggi. Seolah tak ada celah bagi masyarakat untuk menilai sosok WH. Analisa dan riset yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey membuktikan jika WH tidak pernah melakukan janji politik tetapi bukti kerja nyata.

WH yang begitu loyal dan matang birokrasinya tentunya sangat mudah untuk memenangkan pilihan yang masih tabu ini.

Beda dengan WH, Rano Karno memulai politik sejak orde baru, Terlahir dari keluarga seni dan tidak terpikir untuk menjadi birokrasi, lahir di Jakarta 6 oktober 1960, sebelumnya dikenal sebagai aktor, penyanyi dan sutradara Indonesia.

Terjun ke politik awalnya ingin ikut di pilkada DKI tahun 2007 namun batal, alhasil dilirik oleh Bupati Ismet Iskandar untuk maju di pikada Kabupaten Tangerang lalu berhasil tampil sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk periode 2008 -2013. Belum 4 tahun menjalankan roda pemerintahannya bersama Ismet, dirinya naik ke level tinggi menjadi Wakil Gubernur mendampingi Atut Chosiyah yang saat itu sebagai petahana dan ternyata karir politik “Si Doel” (nama populernya di sinetron televisi Si Doel Anak Sekolahan) kian cemerlang dan berhasil menempatkan dirinya sebagai orang nomor dua di provinsi temuda Banten untuk masa periode 2012-2017.

Hal mengagetkan adalah ketika roda pemerintahan Atut-Rano goyah ketika persoalan kasus suap terjadi di MK dan terpaksa meruntuhkan kepemimpinan gubernur Atut Chosiyah yang terseret kasus hukum adiknya Tubagus Chaeri Whardana dan di vonis hukuman selama 7 tahun.

Perubahan karir politik Doel pun akhirnya melesat setelah awal bulan mei di lantik oleh Presiden SBY sebagai pelaksana tugas gubernur banten menggantikan posisi Atut Chosiyah. Pasca pilpres tahun 2014 lalu dan di era presiden Jokowi akhirnya membawa Si Doel ke istana untuk di tetapkan sebagai Gubernur Banten ketiga setelah Djoko Munandar dan Atut Chosiyah berdasarkan keputusan presiden No.78/P/2015 sah menjabat sebagai Gubernur Banten sejak bulan agustus 2015.

Kepiawaian Rano Karno sebagai kepala daerah pun kian terlihat mumpuni membawa perubahan bagi Banten, bahkan perhatiannya terhadap provinsi termuda ini ditunjukkan dengan ditingkatkannya pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah termasuk rencana jalan tol dan jembatan merak-lampung sepertinya  akan menjadi nilai historis yang siap di torehkan “Si Doel” untuk masyarakat Banten.

Tak hanya itu reformasi di tubuh birokrasinya menjadi sasaran utama untuk menanggalkan trah dinasti yang sebelumnya di pegang gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan hal tersebut membuktikan keberanian dirinya disebut sebagai “penentang arus” untuk persoalan birokrat di pemerintahan Banten.

Kedekatan Si Doel terhadap para ulama, suku dan beragam etnik yang ada tetap dijaganya hingga selesai masa tugasnya sebagai Gubernur ketiga di provinsi Banten.

Tak menyangka jika seorang penyanyi, sutradara dan actor besar seperti dirinya bisa menjadi pemimpin di provinsi yang dikenal dengan sejuta jawara dan sejuta tradisi, Menurut sebagian warga Si Doel sudah kebal akan peristiwa politik yang pernah datang menerpa bahkan mengusik kehidupan pribadinya namun semua opini, issu yang terjadi tersebut mampu terlewati begitu saja bagai angin yang berhembus jauh berlarian entah kemana.

Memasuki awal dan babak akhir masa tugas dan pilkada, Rano Karno kembali tampil dan siap bertanding kembali di kancah politik yang lebih dahsyat dan tak kalah seru dari pilkada DKI, trah dinasti mantan atasannya “ Ratu Atut Chosiyah” ikut tampil melalui putranya Andika Azrumi (politisi muda golkar yang handal)

Terpilih Embay Mulya Syarief, Pria kelahiran 4 Maret 1952 ini sebagai pendamping Rano Karno tentunya diluar pandangan dan prediksi para pengamat politik yang ada di Banten, walau beberapa petinggi partai mencoba menyodorkan beberapa nama pejabat dan kepala daerah asal Banten, pilihan Si Doel tak bisa ditepis jika pilihannya menjatuhkan kepada sosok Embay.

Harapan angin segar dan menjaga tradisi keluhuran marwah para pendiri provinsi Banten tentunya masih di butuhkan dari kedua figure Calon Gubernur, Rano Memiliki Embay Sedankan WH bersama Andika, Tentunya masyarakat Banten bukan disuguhkan potret politik gado gado yang sebagian orang suka dan sebagian tak suka, janji politik adalah seni pemilu, masyarakat harus cerdas merespon janji calon pemimpin, Ibarat sang konduktor, Timses harus bisa menjadi motivator handal memainkan irama yang sahdu dan asyik di nikmati para pendengarnya yang langsung jatuh hati pada biduan yang di lihat. Beribu bahkan berjuta janji politik sudah tentu ada dari yang putih hingga yang hitam tentunya di gaungkan para actor intelektual di balik parpol.

Sekali lagi, janji politik adalah seninya pemilu, sehingga timses harus cerdas menyikapi peran masyarakat untuk bisa secepatnya merespon calon gubernur yang di usungnya. Tipikal “Si Doel” terbukti tak pernah mengumbar janji politik untuk melenggang ke panggung politik, Begitu pula dengan WH terkenal sahaja dan kandidat hebat. Si Doel ideal menjadi gubernur Banten atau WH yang layak mendudukinya pendopo pemerintahan Banten, tapi tetap pemenangnya ada di tangan Tuhan melalui tangan rakyat Banten.

Seperti pesan rakyat, Jika ada sosok pejabat sebagai pelayan masyarakat yang terbaik tentunya akan menjadi pilihan masyarakat sebab biasanya pejabat seperti itu selalu bersikap egaliter.

Oleh : Kasmudiaz (Presidium SIJI / Solidaritas Jurnalis
Independen Tangerang Raya)

Recommended For You

About the Author: Telegraf

Leave Your Comment