MINGGU-MINGGU terakhir ini masyarakat makin direpotkan dengan lari-larinya si kecil yang nyaris membuat frustasi ibu rumah tangga. Tetapi apa daya? Memangnya si kecil itu bisa digantikan sandal jepit? Sementara bukan hanya orang dewasa namun juga  segenap anak-cucù paling demen makanan pedas.

Si kecil cabai rawit ini memang luar biasa liar mutakhir ini. Dan tidak tergantikan fungsinya. Satu daerah melaporkan harganya melonjak hingga Rp 100.000 per kilogram. Di tempat lain terdata Rp 120.000. Dan di Samarinda bahkan di suatu hari bahkan sampai Rp 200.000 per kilogram, sepuluh kali lipat dari biasanya. Komentar para pejabat seperti biasanya, tidak pernah berubah. Bahwa ini hanya sementara, karena muslm hujan, dan sebentar lagi juga turun lagi.

Komentar itu klasik. Komentar yang muncul untuk harga pangan apapun.  Tidak jelas alasannya, apakah itu untuk menghibur rakyat kecil atau melarikan diri dari tanggung jawab. Ada pula yang mengatakan itu ulah spekulan. Dengan segala dalih antara masuk akal dan tidak masuk akal.

Masyarakat khususnya para ibu rumah tangga hanya ngudarasa, apakah memangnya para pejabat itu tidak tahu, dungu, ato pura-pura tidak tahu ya? Kok jawabannya sak kepenake dhewe bukan. Yang jelas mereka tidak merasakan karena uangnya banyak.Sementara ibu rumah tangga sudah mumet luar biasa, bagaimana memenuhi selera makan anak-anak dengan njembeng  belanjan apalagi mereka yang berjualan makanan.

Lha tetapi kan pejabat negara yang harus bertanggung jawab? Betul, untuk beberapa jenis pangan strategis. Pertanyaan lebih lanjutnya apakah si kecil cabe rawit ini termasuk di dalamnya sebagai jenis pangan strategis atau tidak? Sesungguhnya, perihal ini yang harus dicermati dinamis oleh para petinggi.

Dinamisitas ini terletak pada beberapa hal yang teramat sederhana sebetulnya. Pengaruh kenaikan harga komoditas kecil ini cukup kuat atau tidak terhadap kenaikan harga komoditas lain, dan terhadap inflasi. Tentu menjadi  pertimbangan dalam kategori strategis ini. Persoalan lain adalah keresahan sosial yang diakibatkannya.

Dua faktor yang disebutkan ini saling bahu-membahu menjadi penghela suasana inflationary. Dan seringkali memiliki respons pasar yang berlebihan dan membengkakkan derajat kontribusi inflasinya di luar nalar.  Bahaya inflationary inilah yang harus menJadi perhatian pemerintah untuk kategori dinamis strategis atau tidaknya satu butir pangan itu.

Terminal atau sub terminal agribisnis ada di banyak tempat. Pertanyaannya Apakah fungsi terminal agribisnis ini sudah memenuhi harapan atau masih memerlukan pembenahan? Sehingga bisa berkontribusi terhadap stabilisasi harga pangan.

Faktanya, penelitian mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM baru-baru ini menemukan bahwa margin keuntungan yang diperoleh oleh petani terminal agribisnis dalam usah atani cabe yang penuh risiko itu hanya sekitar 10%. Sementara itu, pengumpul di terminal agribisnis tanpa risiko memperoleh 20% -30%. Dan pengecer bisa <I>ngundhuh<P> keuntungan spekulatif semau gue.

Untuk kasus yang diteliti ini ternyata terminal agribisnis hanya memberikan kemudahan eksploitatif bagi the big guys,  pedagang dan pengecer itu, Dengan petani kecil sebagai objek penderita. Oleh karena itu jangan pernah dibayangkan bahwa melonjaknya harga cabe rawit ini adalah sorga bagi petani kecil. Tidak seberapa pengaruh nya pada tingkat farm gate price. Tetapi jelas mencekik pada tingkat pasar konsumsi.

Membiarkan tarian cabai rawit ini berlama-lama hanyalah memperkaya the big guys. Dengan tanpa cipratan berkah bagi rakyat tani miskin. Dan karenanya, tidak pernah ada ibu rumah tangga yang merelakannya.

Oleh : Prof Dr M Maksum Mahfoedz. Penulis adalah Wakil Ketua PB NU, Guru Besar TIP UGM.